"Menghafal Alquran sangat susah," ujar sebagian orang yang mungkin mengalami patah semangat dalam menghafal Quran. Tapi... janji Allah pasti lah benar, bahwa menghafal Alquran itu adalah perbuatan mulia yang telah dijamin kemudahannya untuk dipelajari dan dipahami. Sesuai dengan firman Allah pada surat Al Qamar, yang di ulang hingga 4x pada ayat 17, 22, 32 dan 40:
"Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"
Ayat di atas, jelas-jelas mengatakan bahwa Alquran telah dimudahkan oleh Allah untuk dipelajari. Mempelajari disini bisa diartikan membacanya, mencari pengetahuan didalamnya, hingga menghafalnya.
 |
| Taken from albesuty.blogspot.com |
Menghafal Alquran adalah kegiatan mulia, yang memiliki segudang manfaat bagi penghafalnya. Secara umum, Penghafal Alquran dapat dibedakan menjadi dua tipe. Pertama, para penghafal yang mengikuti atau menerapkan program khusus dan menetapkan target hafalan. Mereka biasanya bergabung dalam suatu program khusus yang memang menargetkan untuk menghafal Quran sesuai dengan yang ditentukan. Para penghafal ini juga memiliki guru yang sudah ditentukan (resmi), baik ahli Quran (hafizh) atau alim ulama, yang akan membimbing dan mengarahkan para penghafal untuk mencapai target hafalan. Kebanyakan para penghafal ini berasal dari kalangan pelajar atau santri. Sedangkan yang kedua adalah para penghafal yang tidak mengikuti program tertentu dan tidak menetapkan target hafalan. Mereka menghafal Alquran sembari menjalankan aktivitas sehari-hari lainnya. Para penghafalnya ini tidak memiliki guru resmi dalam membimbing mereka, tetapi hanya ahli Quran yang dapat mereka mereka temui jika ada kesempatan. Kebanyakan para penghafal ini dalah dari kalangan pekerja.
Jika dilihat dari tipe penghafal Aquran yang sudah dijelaskan sebelumnya. Bisa jadi tipe pertama, memilki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dalam menghafal Alquran dibandingkan dengan yang kedua. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan penerapan program, intensitas hafalan, bimbingan guru dan lainnya. Selain itu, juga terdapat kendala yang berbeda-beda yang dihadapi para penghafal, kendala ini bisa jadi bukan masalah yang berarti bagi tipe penghafal pertama, tetapi tidak dengan tipe penghafal kedua. Lantas, bagaimana cara atau strategi untuk mempermudah para penghafal dalam menghafal Quran? Berikut ini adalah beberapa cara atau strategi yang insya Allah dapat membantu mempermudah proses hafalan Alquran, terutama bagi para penghafal tipe kedua.
1.Gunakan teknik yang tepat dan menyenangkan. Disini penulis menggunakan metode repeat and action. Perhatikan gambar dibawah ini:
 |
| taken from: rizkafitri.wordpress.com |
Pada metode ini, penghafal bisa memilih 1 sampai 3 ayat lebih untuk dihafal lebih dahulu. Setelah merasa sudah menguasai, barulah melanjutkan ke ayat berikutnya. Tetapi jangan lupa untuk tetap mengulang membaca dari ayat 1 hingga ayat terakhir yang sudah dihafal, supaya terjadi keterikatan antar ayat.
Ada beberapa pertimbangan dalam menentukan jumlah ayat yang dihafal terlebih dahulu, bisa karena kesamaan bunyi akhir dari suatu ayat, panjangnya ayat, keinginan pribadi atau yang lainnya. Sebagai contoh, kita ambil surat Al-Ghasyiyah. Pada surat ini, kita bisa mengambil 1-5 ayat terlebih dahulu, karena kesamaan bunyi akhir dari suatu ayat. Setelah menguasai, dilanjutkan dengan ayat ke 6 dan 7 juga karena kesamaan bunyi akhir. Kemudian dapat dilanjutkan dengan 8-10 dan seterusnya. tetapi sebelum itu ayat 1-7 di ulang kembali agar lidah terbiasa dan otak merespon dengan tepat dalam menghubungkan antar ayat.
Metode ini sangat efektif bagi para penghafal super sibuk, karena bisa dilakukan dimanapun dan saat melakukan apapun. Cukup membawa Alquran kecil, buku Quran (per juz), Quran MP3 dan lainnya. Metode ini persis seperti metode audio lingual yang banyak digunakan di dalam pembelajaran. Dalam metode repeat and action ini, penghafal dituntut untuk dapat terbiasa mengucapkan apa yang dihafalkan. Alhasil, tanpa respon dari otak, lidah akan sanggup melafalkan ayat-ayat. Tentunya untuk hasil yang terbaik, respon otak tetap perlu dilibatkan. Karena berfungsi sebagai pengontrol bacaan, jika suatu waktu ada pengucapan atau bunyi yang salah.
2.Mengenal aturan-aturan dalam membaca Alquran. Sangat penting sekali, karena hasil hafalan akan berbeda jika penghafal sudah memiliki pengetahuan mengenai aturan dalam membaca Alquran. Bagus memang, jika kita mempunyai keinginan untuk menghafal Alquran dengan pengetahuan Alquran yang apa adanya, tetapi lebih bagus lagi jika sebelumnya kita mengetahui dan menyadari beberapa aspek berikut ini, diantaranya:
- Harakat: Tanda baca dan panjang pendek huruf.
- Makhraj: Perbedaan bunyi huruf. Contoh tsa, sa, dan sya.
- Tajwid: Tata cara bacaan Alquran.
Kita ambil contoh surat Al-Fatihah. Siapa umat muslim yang tidak hafal surat yang satu ini. Surat ini dapat dengan mudah dihafal karena sering diulang-ulang dalam salat. Seperti itu juga dengan penulis, yang sudah menghafal Al-Fatihah sejak kecil tetapi saat itu belum paham mengenai aturan-aturan dalam membaca Alquran. Setelah beranjak paham. Terasa sekali hafalan Al-Fatihah yang penulis dapatkan banyak yang tidak tepat, terutama bagian makhrajnya. Pertama yang penulis sadari adalah bunyi huruf Alif dan 'Ain. Dulu penulis berpikir bahwa kedua huruf ini sama jika dibaca, padahal kedua bunyi huruf tersebut jelas berbeda. Dimana huruf Alif berbunyi 'a' dengan jelas sedangkan 'Ain dibunyikan dengan ada penekanan pada daerah pertengahan tenggorokan. Di Al-Fatihah sendiri terdapat ada 6 huruf 'Ain, di ayat 2, 5 dan 7.
Selain itu ada juga beberapa huruf yang terdengar sama tetapi beda dalam membunyikannya dan mungkin sering terabaikan, yaitu Sin dan Shod (terutama pada sukun), Ha dan Ha. Pada Sin sukun, dibunyikan sebagaimana bertemu huruf 'S' biasa (contoh: Mustaqim), sedangkan pada Shod, dibunyikan lebih tebal (contoh: Ihdinash). Untuk huruf Ha, bunyi dibedakan menjadi 2. Huruf Ha sesudah Jim dibunyikan di pertengahan tenggorokan. Bunyi ini seolah-olah menimbulkan efek pedas. Sedangkan huruf Ha sesudah Waw dibunyikan dipangkal tenggorokan sehingga berbunyi sebagaimana Ha biasa.
Terakhir, di Al-Fatihah ada juga huruf Ta, yang dibunyikan secara hams (berdesis) dan huruf Dhod yang dibunyikan secara tebal.
Dari contoh di atas, ternyata harakat, makhraj dan tajwid sangat berpengaruh pada kualitas dan ketepatan hafalan. Diharapkan dengan mengetahui 3 aspek ini, hafalan yang didapatkan akan lebih sempurna.
3.Mempersiapkan dan memilih 1 mushaf Al-Quran atau buku Quran (per Juz) yang khusus digunakan untuk menghafal. Maksudnya, penghafal disarankan untuk tidak mengganti-ganti Alquran atau buku Quran yang dipakai dalam menghafal. Ini sangat berpengaruh sekali, karena ternyata mata juga ikut menghafal apa yang dilihat. Dengan kata lain, mata juga membantu proses hafalan. Hal ini terbukti pada penulis sendiri. Ketika mencoba menghafal surat An-Naba penulis menggunakan 2 buku Quran (Juz Amma) yang berbeda. Ternyata dalam merangkaikankan ayat, penulis mendapati kesulitan, karena di Juz Amma yan satunya ayat tersebut berada di posisi atas, sedangkan di Juz Amma satunya lagi, ayat tersebut berada di bawah. Jadi, ayat yang sama dengan posisi yang berbeda dapat mengaburkan otak dalam merangkai dan menghafalkannnya.
4.Menghafal sambil beraktifitas. Menghafal tidaklah harus saat duduk tenang dengan kondisi sekitar yang hening. Menghafal sembari melakukan aktifitas juga memberikan pengalaman unik tersendiri. Tentukan aktifitas yang baik dan dibolehnya menyebut nama Allah didalamnya. Contohnya: berjalan kaki, naik kendaraan, menyetrika dan lainnya. Karena tidak ada yang bisa menjamin kapan kita siap untuk duduk tenang di tempat yang tepat dalam menghafal, menghafal sambil beraktifitas dapat menjadi solusi jitu bagi pengahafal yang sper sibuk.