Nasi Bungkus Ibu
Ibu
Neti hidupnya sedikit kurang beruntung. Dia ditinggal mati oleh suaminya dan
harus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga hanya dengan menjadi seorang buruh
cuci. Ditambah lagi, kakinya pincang sejak lahir, menjadikan banyak orang yang
mengejeknya, dan ternyata menjadi hal yang mempersulit ibu Neti
dalam mencari pekerjaan. Sulit memang, mencari pekerjaan selain buruh cuci karena
hanya itu yang dirasakan ibu Neti, sanggup dia kerjakan. Bersama dengan seorang
anak lelakinya yg menginjak dewasa, Ibu Neti hidup dengan sangat sederhana dan
tinggal di sebuah kontrakan. Dulu, dia bersama suaminya belum sanggup untuk
mendapati sebidang tanah dan sebuah rumah. Karena memang, hidup mereka begitu
berat dan sulit.
Sang anak, Abdisetia Aula, yang biasanya dipanggil Awu dengan lembutnya oleh ibu Neti, cukup beruntung.
Karena berhasil tembus
ke perguruan tinggi negeri. Entah nasib atau apa, padahal Awu tidak begitu
cemerlang prestasi belajarnya. Tapi, dalam kesempatan seleksi perguruan tinggi
1 tahun yg lalu, dia dinyatakan lulus. Orang-orang sekitar pun turut mendengar
kabarnya, beberapa ada yang senang, karena ibu Neti berhasil mengantarkan
anaknya ke jenjang perguruan tinggi, beberapa lagi terlihat sombong dan menghina, karena menilai
kemiskinan ibu Neti. Tetapi,
pertolongan Allah, tidak ada yang pernah tahu.
Ditengah kebingungan Ibu Neti untuk membayar biaya awal kuliah, seorang
tetangga ibu Neti yang sekarang telah almarhum, Haji Hosan, dengan senang hati menutupi biaya tersebut. Bukanlah
hal mengherankan, ini karena Haji Hosan
sangat senang dengan Awu yang sering membantu ketika ada acara hajatan
dirumahnya. Awu sangat serius dalam menolong. satu hal yang selalu diingat haji
Hosan, ucapan Awu yang selalu diucapkannya setiap acara, “Pak Haji, nasi bungkusnya satu buat aku ya Pak.”
| Diambil dari wikimedia.org |
Tapi sekarang, orang baik itu telah
tidak ada lagi. Ibu Neti dan Awu tetap harus
terus melanjutkan kehidupan, berat...tapi harus dijalani. Makin terasa lagi karena setiap hari Ibu Neti
harus berpikir keras, untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan Awu. Awu hanya bisa
mendapatkan beasiswa bebas SPP di kampusnya,
jadi untuk biaya lain seperti buku dan alat tulis serta perlengkapan tugas harus dipenuhi sendiri. Sulit mencari beasiswa saat ini, di saat banyak kecurangan yang terjadi yang dilakukan
oleh teman-temannya yang lain. Ada yang memanfaatkan orang dalam, bersaksi palsu, bahkan pemalsuan surat dan tanda tangan. Tapi Awu tidak mau seperti itu, karena ibu Neti selalu
menekankan kejujuran padanya.
Disemester yang ketiga ini, Awu
aktif dalam kegiatan organisasi, terutama di Hima (himpunan mahasiswa). Dia tergabung
dalam Hima Bahasa Inggris,
yang sangat sering mengadakan kegiatan. Setiap ada kegiatan Hima dia selalu ikut, dan biasanya memilih bidang
perlengkapan, karena pekerjaannya tidak menguras otak dan mudah dilakukan.
“Bidang
perlengkapan ini sangat penting, jadi jangan sampai kegiatan ini terganggu
karena kurangnya fasilitas, oh iya siapa aja anggota kamu Hen?” Tanya Satrio, ketua acara.
“Oke
Pak ketua, kalau anggota sih ada Hadi, Otoy sama Awu,” jawab Henry, koordinator perlengkapan.
Satrio heran
dan meledek, “Eh, ada Awu lagi ya?”.
Awu
hanya tersenyum, dia sadar apa yang dimaksudkan Satrio. Acara pun berjalan lancar, semua panitia membereskan
perlengkapan dan saatnya mereka istirahat.
“Sukses!! Makasih ya semuanya…terutama bagian perlengkapan. Ayo
istiharat dulu, konsumsinya disana, nasi bungkus,” seru Satrio yang terlihat sangat senang dengan berhasilnya acara.
“Di, Toy, Aw makan gih, thanks ya udah fokus kerjanya,” kata Henry.
“Haha...biasa aja Hen, ini kan untuk nama baik hima juga,” tukas Hadi.
Mereka pun mulai membuka nasi bungkus
masing-masing dan makan, tapi Awu tidak
terlihat menyentuh nasi bungkusnya.
“Aw,
kamu kok gak makan?” Tanya Hadi.
“Oh, gak apa-apa, aku makan dirumah aja,” jawab Awu sambil tersenyum.
“Bener Di, si Awu mana
pernah mau makan nasi bungkusnya disini. Heran aku Aw, kamu kok bawa pulang terus nasinya.” Otoy terlihat
heran.
Hari pun beranjak sore, Awu segera pulang kerumah
kontrakan nya. Dia sengaja menyisihkan nasi bungkus itu untuk seseorang.
Dirumah, terlihat ibu Neti, sedang menjahit celana dasar Awu, yang sobek pada
bagian lingkar bawah celananya.
“Samlikum, Bu aku
pulang.”
“Waalaykumsalam, Awu, lihat Nak ibu udah jahit celana
kamu yang sobek,” sahut ibu Neti sambil tersenyum
menatap anak kesayangannya.
“Iya Bu, maaf aku gak
sempat jahit sendiri. Bu, aku bawa nasi bungkus
ayam untuk ibu,” seru Awu dengan semangat.
“Nak, kamu aja yang makan ya. Ibu kan udah sering kamu
kasih kemaren-kemaren.”
“Gak Bu, ini untuk
ibu, Awu sengaja bawa kerumah Bu,” ucapnya dengan sedikit penekanan nada.
“Makasih Nak, kalau
begitu kamu ikut makan juga ya,” ajak ibu Neti.
Mengharukan memang, untuk
mendapatkan lauk berupa ayam, adalah suatu hal yang langka bagi keluarga ibu Neti,
penghasilan yang didapat ibu Neti, sudah habis untuk memenuhi keperluan kuliah Awu
serta membeli lauk sehari-hari, yang keseringan hanya berupa ikan asin dan
sayur kangkung.
“Gimana Aw, tadi
kegiatan kamu,” tanya ibu Neti.
“Loh kok ibu tau.” Awu keheranan.
“Iya Nak, kalau kamu
bawa nasi bungkus, berarti kamu habis bantuin atau ikut kegiatan di kampus kan.”
“Oh iya ya, kegiatan nya lancar Bu, malah ketua senang dengan kerjaan yang Awu lakukan.”
Hari menjelang malam, mereka pun segera beristirahat
yang hanya ditemani oleh lampu minyak.
Seminggu kemudian, Hima bahasa Inggris
mengadakan kegiatan pelatihan menulis cerpen dalam bahasa Inggris. Pelatihan
ini langsung diketuai oleh Atik, seorang
koordinator Hima bidang dokumentasi.
Kepanitiaan yang semua angotanya berasal dari bidang dokumentasi pun sudah
dibentuk. Yang menjadi masalah, kurang nya minat mahasiswa untuk ikut pelatihan
ini, menjadikan panitia sulit untuk menemukan peserta pelatihan. Atik pun mulai berusaha untuk menemukan peserta. Di tangga
gedung, tidak sengaja Atik bertemu
dengan Awu dan teman nya Rama yang sedang santai sehabis mata kuliah selesai.
“Awu,
ikut ya pelatihan nulis cerpen yang bakal diadain 3 hari lagi,” ajaknya.
“Nulis cerpen ya??” Awu berpikir sembari berniat
menanyakan sesuatu.
“Gimana Aw, Ram, kamu ikut juga ya,” ajak Atik lagi.
“Kalau Awu ikut, aku
ikut,” seru Rama, teman
akrab Awu
yang sering bersama.
“Atik, itu ada konsumsinya gak.” Dengan sedikit
malu, Awu bertanya.
“Oh, pasti Aw, untuk
kegiatan pelatihan ini, kita udah siapin nasi bungkus, isinya ayam panggang spesial lagi. Soalnya ketua Prodi kita udah anggarin dana banyak
buat acara ini. Eh, tapi ikut acara nya
sampai selesai ya.”
“Nah, ok Tik, kita ikut,” jawab Awu.
Awu mengikuti acara sampai selesai,
walaupun terlihat tidak fokus karena
tidak begitu berminat. Seperti yang diharapkannya, tepat pukul 11 siang, nasi bungkus pun mulai dibagikan.
“Aw, bawa pulang lagi nasi nya?” Tanya Rama.
“Eh, iya Ram, aku bawa
kerumah aja,” jawab Awu.
“Aku tau Aw, pasti
bukan kamu yang makan nasinya nanti dirumah. Itu buat siapa Aw?” Dengan
penasaran Rama bertanya.
“Hhmm, ini bu-bua… pokoknya
ada lah Ram,” jawab Awu yang terlihat enggan memberi tahu.
“Aw, kamu udah aku anggap teman terbaik aku. Gak
papa Aw, bilang aja. Apa itu buat ibu kamu?”.
Awu terdiam sejenak, “iya Ram,
aku kasian sama ibu. Kalau aku habiskan sekarang, nanti ibu aku gak bisa makan
enak.”
“Ini Aw, nasi aku buat kamu
aja.” Rama terlihat begitu simpati.
“Gak Ram, aku kan juga udah
dapat nasi bungkusnya. Lagian kamu udah sering baik sama aku.”
“Tapi Aw, nasi itu kan buat
ibu kamu. Okelah, kalau gitu, gimana nasi punya ku kita bagi dua aja ya?” Saran
Rama.
“Ram….” Suara hati Awu
mengucapkan syukur mempunyai teman seperti Rama.
Nasi bungkus itu dimakan
berdua, tetapi Awu makan dengan porsi yang sedikit, karena dirumah pasti ibunya
akan memintanya juga untuk makan.
Siang itu begitu panas, debu-debu menyelimuti jalan,
kendaraan pun sesak. Sambil membasuh keringatnya ibu Neti berjalan dengan
payah. Kaki pincangnya cukup menyulitkan ibu Neti untuk berjalan dengan aman
ditengah keramaian. Ibu Neti pun berhenti, terlihat senyuman merekah dari
bibirnya. Sambil menghitung lagi uang yang baru didapatnya dari gajinya sebagi
buruh cuci. Ibu Neti menatap sebuah restoran Padang mewah yang tepat berada di
hadapannya.
“Bu, Awu lapar, Awu mau nasi
bungkus seperti yang dibeli bapak itu Bu,” seru Awu, sambil menangis lirih.
“Nak, sabar Nak, kalau ada
uang nanti ibu belikan ya,” jawab ibu Neti yang ikut menangis.
“Astagfirullahal’azhim!” Ibu Neti
terbangun dari lamunannya.
Peristiwa itu terjadi persis
pada tempat yang sama ketika Awu masih berumur 6 tahun. Ibu Neti teringat
kembali janjinya pada Awu untuk membelikan nasi bungkus. Dengan menghentakkan
tongkat lapuk dan lusuhnya ke tanah ibu Neti masuk ke restoran itu dan berniat membeli
sebungkus nasi untuk Awu.
Sesampainya didalam restoran, terlihat pelayan restoran
yang menatap dengan sinis kepada bu Neti. Dia mengira ibu Neti adalah pengemis,
karena memang restoran itu sering didatangi pengemis yang kelaparan meminta
makan.
“Nak, ibu mau beli nasi
bungkusnya satu.” sahut ibu Neti sambil tersenyum.
Pelayan pun terkejut dan
menyesal karena salah menilai seseorang, “Oh, maaf Bu. Nasi bungkus apa ya Bu,
ada ikan, ayam, daging?” Tawar si pelayan.
“Nasi ayam Nak, berapa
harganya?”.
“Dua puluh ribu Bu,” jawab
pelayan restoran.
Ibu Neti mengeluarkan uang
dari saku bajunya dan tersenyum kembali, membayangkan anaknya akan makan nasi
bungkus enak siang ini.
Sehabis pelatihan menulis cerpen itu, tidak ada lagi perkuliahan
yang harus diikuti oleh Awu dan Rama, mereka pun pulang dengan angkot bersamaan
karena memang rumah mereka searah.
“Sreettt.”
“Jegeerr.”
“Druakk.”
Suara dentuman mobil
terdengar begitu keras. Semua orang terkejut, termasuk Awu dan Rama. Sebuah
kecelakaan baru saja terjadi tidak jauh dari mobil yang mereka tumpangi.
Terdapat dua mobil yang terlibat pada peristiwa kecelakaan itu, mobil yang satu
menghantam sisi sebelah kanan mobil yang satunya lagi. Dentuman besi dan
kaca-kaca pecah begitu jelas terdengar.
“Dek, sepertinya ada
kecelakaan. Jalanannya macet, kita putar arah ya?” Tanya pak sopir pada
penumpang yang tersisa yaitu Awu dan Rama.
“Tapi kan jauh pak?” Sahut Awu
yang terlihat tergesa-gesa.
“Kita turun disini aja Ram,
sambung angkot dijalan depan. Pak ini ongkosnya Pak, kami turun disini aja,” lanjut
Awu.
Mereka turun dan bergegas jalan
untuk mencari angkot sambungan.
“Aw, kenapa? Kok buru-buru
gitu?” Heran Rama.
“Ram, ibu aku udah nungguin di rumah. Tadi aku udah janji makan
siang sama-sama. Dia pasti kelaparan nungguin aku pulang,” jawab Awu.
Di lokasi
kecelakaan terdengar orang-orang berteriak kencang, “Hei, tolong!! Ada yang
terluka parah, kasian dia berlumuran darah.”
Orang-orang yang ada di sekitar segera
mendekati lokasi kecelakaan.
“Liat dia masih sadar,” seru
seorang pemuda.
“Iya dia masih sadar, tapi
lukanya sangat parah,” sambung pemuda lain.
Rama pun ikut penasaran, “Aw
kita liat bentar ya, itu ada yang lagi kecelakaan,” ajak Rama.
“Ram, aku harus cepat Ram,
perasaan ku gak enak. Aku yakin ibuku udah nunggu dirumah. Ini udah telat, aku
gak tega buat ibu ku nunggu lebih lama lagi,” sahut Awu.
Mereka sangat dekat dengan
lokasi kecelakaan. Tapi kerumunan orang menutupi lokasi kecelakaan, sehingga
membatasi penglihatan mereka.
Selepas
pembicaraan, baru selangkah Awu berjalan, kakinya menginjak sebuah benda. Benda
itu lapuk dan terlihat lusuh. Awu terdiam sejenak, hatinya terenyuh dan dia
tersungkur mengambil benda tersebut. Satu hal yang dia tahu, dia sangat
mengenali benda itu.
“Ibuuuu!!” Teriak Awu.
Awu berteriak sekuat-kuatnya
sembari mendekati lokasi kecelakaan, “Minggir, minggir!!!”.
Terlihat wanita tua yang terbaring lemah berlumuran
darah. Disekitarnya ada sebungkus nasi yang tumpah dan setumpuk uang yang
bertebaran. Tetapi wanita tua itu terlihat masih sadarkan diri. Dengan suara
lirih dia terus memanggil-manggil nama seseorang. Beberapa orang mulai mencoba
mengangkat tubuh wanita tua itu.
“Ibuuu! Ini Awu Bu, ini Awu,” teriak
Awu dengan dengan air mata mengalir di pipinya.
Ibu Neti memanggil Awu dengan
suara yang lirih dan lemah, “A, A, A-wu”.
“Ibu harus kuat Bu. Ibu pasti
selamat. Awu, Awu bawakan nasi bungkus buat ibu,” ucapnya sambil menangis.
“Tolong bantu angkat ibu saya!
Ram bantuin Ram!” Teriak Awu pada orang-orang sekitar.
“Ja ja-ngan,” ibu Neti
sepertinya menolak untuk diangkat.
Sambil menahan rasa sakit yang
teramat sangat, ibu Neti mencoba menyampaikan sesuatu pada Awu.
“Nak, ini janji ibu Nak, ibu…
ibu belikan nasi bungkus buat kamu-----,” ucap ibu Neti yang ternyata itu menjadi
pesan terakhirnya pada Awu.
“Ibuuuuuuuuuu,” Awu berteriak
menangisi kepergian ibunya. Air mata nya jatuh, membasahi pipi ibunya, dan
mengalirkan darah yang ada di pipi ibunya. (aamt)
0 comments:
Post a Comment