Selamat Datang di Natuna
 |
| Taken from tribunnews.com |
Kepulauan
Natuna terletak 600 km sebelah timur laut Singapura dan 1100 km sebelah
utara Jakarta. Natuna adalah salah satu kabupaten di propinsi
Kepulauan Riau. Posisi Natuna merupakan salah satu wilayah paling utara Indonesia. Di
sebelah utara, Natuna berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja, di selatan
berbatasan dengan provinsi Jambi dan Bangka Belitung, di bagian barat dengan
Singapura dan Malaysia, sedangkan di bagian
timur berbatasan dengan Malaysia Timur (Serawak) dan provinsi Kalimantan Barat. Posisi ini sangat strategis, sehingga menjadikan
Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Singapura, Hongkong, Jepang dan negara lainnya.
Geografis
Secara Geografis Kabupaten Natuna terletak di belahan Utara Indonesia
tepatnya antara 2º Lintang Utara – 5º Lintang Utara dan 104º Bujur
Timur – 110º Bujur Timur. Luas Wilayah daratan Kabupaten Natuna adalah 2.009,04 km2 yang mana terdiri dari sekitas 272 pulau besar
dan kecil yang tersebar di perairan Laut Cina Selatan diantaranya pulau Bunguran (pulau terbesar), pulau Subi, pulau Laut dan lainnya. Dari 272 pulau
tersebut, hanya 76 pulau atau 28% yang telah di huni, sedangkan 195 atau
lebih kurang 72% pulau lainnya masih belum berpenghuni.
Berdasarkan kondisi fisiknya, kabupaten Natuna merupakan tanah
berbukit dan bergunung batu, Dataran rendah dan landai banyak di temukan
dipinggir pantai. Ketinggian wilayah antara kecamatan cukup beragam,
yaitu berkisar antara sampai +-3 sampai dengan +-1.035 meter (puncak Ranai) dari permukaan
laut. Pada Umumnya struktur tanah
terdiri dari batuan yang tanah dasarnya mempunyai bahan dasar granit dan
alluvial serta tanah organosol dan gley humus.
Ibukota Kabupaten
 |
| Mount Ranai |
Ibukota dari kabupaten Natuna adalah Ranai yang terletak di Pulau Bunguran. Banyak sekali objek wisata yang bisa dikunjungi di kota ini, yaitu gunung Ranai, yang posisinya sangat dekat dari kota, Pantai Stress, dengan keunikan namanya, Masjid Agung Natuna, yang terlihat laksana replika Taj Mahal dan masih banyak yang lainnya. Kemudian, untuk keperluan berbelanja, para pendatang ataupun wisatawan dapat mengunjungi
Mall Natuna (Ranai City Market) dan sentra belanja lainnya.
Penduduk
 |
| Natuna's Regent and Melayu Culture |
Penduduk Kabupaten Natuna bedasarkan
data sensus penduduk 2010, berjumlah 69.319 jiwa, dengan ratio jenis kelamin pria (35.780) lebih tinggi dari wanita(33.449). Jumlah ini meningkat hingga tahun 2012 menjadi berjumlah
76.606 jiwa. Berdasarkan data yang diambil dari
Wikipedia, Komposisi etnis di Kabupaten Natuna sangat beragam. Keberagaman ini didominasi oleh etnis Melayu (85%), diikuti Jawa (6%), Tionghoa (3%) dan lainnya.
Ekonomi
Selain letaknya strategis kawasan Pulau Natuna dan sekitarnya pada
hakikatnya di karunia serangkaian potesi sumber daya alam yang belum
dikelola secara memadai atau ada yang belum dikelola sama sekali.
Kabupaten Natuna wilayahnya dikelilingi oleh laut dalam. Dengan posisi
dikelilingi laut luas, Natuna menjadi terpencil, serta minim fasilitas
sosial dan fasilitas umum. Kekayaan laut Natuna diperkirakan
dapat menghasilkan lebih dari satu juta ton ikan per tahun. Namun, saat
ini baru 36% saja yang termanfaatkan. Pertanian dan perkebunan seperti
ubi-ubian, kelapa, karet, sawit, dan cengkeh. Sedangkan objek wisatanya
meliputi wisata bahari seperti pantai, pulau, selain itu wisata gunung,
wisata air terjun, wisata gua dan wisata budaya.
Musim
Iklim di Kabupaten Natuna sangat dipengaruhi oleh perubahan arah
angin , musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Maret sampai dengan
bulan Juli. Curah hujan rata-rata berkisar 137,6 milimeter dengan
rata-rata kelembapan udara sekitar 83,17 persen dan temperatur berkisar
27,10 Celcius. Minimnya pemanfaatan potensi laut juga karena pengaruh
musim yang hanya ramah selama enam bulan saja. Selebihnya, saat angin
utara datang, laut di sekitar Natuna menjadi ganas dan para nelayan
memilih berkebun sebagai lahan menyambung hidup.
Pantai
Gugusan Kepulauan Natuna juga memiliki pemandangan yang indah, dengan
panorama pantai yang masih terjaga keasriannya. Pengunjung dapat menemukan wisata pantai,
seperti Alif Stone, Pantai Tanjung, Pantai Sebagul, Pantai Teluk Selahang, Pantai Setengar, Pantai Sisi Serasan, Pantai Stress
dan sebagainya. Sejumlah lokasi bahkan menjadi tempat favorit bagi
penggemar snorkling, pengamat habitat penyu, dan pecinta wisata bawah
air.
 |
| Alif Stone |
Kemudian pengunjung juga dapat mengunjungi Pulau Senoa
dengan menggunakan pompong dan perjalanan ditempuh sekitar 30 menit.
Bila dilihat dari fisiknya, bentuk Pulau Senoa menyerupai ibu hamil yang
sedang berbaring di atas laut. Karena itu, Pulau ini kerap disebut
dengan Pulau Ibu Hamil oleh penduduk setempat. Di Pulau Senoa,
pengunjung akan menemukan penyu yang berkeliaran dengan bebas di pinggir
pantai. Di Pulau ini juga terdapat sarang burung walet di sejumlah gua.
Kekah Natuna.

Di Natuna, pengunjung juga dapat menemui salah satu spesies kera langka yang biasa disebut dengan nama 'kekah' (Presbytis Natunae). Kekah Natuna hanya hidup dan berkembang di Bunguran seperti di kawasan Gunung Sintu (Pian Tengah, Sepang, Seberang), gunung Ranai, dan Gunung Ceruk. Bentuk kekah sangat unik dan lucu, tubuhnya diselimuti oleh bulu-bulu hitam tebal
yang diselingi dengan warna putih pada bagian dada hingga kelihatan
seperti mengenakan rompi putih dan pada bagian wajah. Mata kekah
dikelilingi kulit berwarna putih dan abu-abu. Mereka terlihat seperti
mengenakan kacamata. Seperti jenis-jenis kera lainnya, Kekah yang pemakan buah-buahan,
dedaunan, dan umbi-umbian ini juga hidup berkelompok dan agak sulit
didekati karena sifatnya yang sedikit pemalu, jika di pelihara hewan ini
bisa jadi sangat 'manja' kepada pemiliknya. Bila beruntung, Anda dapat
menemukannya di jalan raya dalam perjalanan menuju pelabuhan Selat
Lampa, Kecamatan Pulau Tiga, Natuna.
Transportasi.
Untuk mencapai ibukota Kabupaten Natuna (Ranai), pengunjung dapat menggunakan transportasi udara yang melayani penerbangan dari Batam ke Ranai dan sebaliknya. Perjalanan dengan pesawat (maskapai Wing Air dan Sky Aviation) ini biasanya memakan waktu selama kurang lebih 1 jam 30 menit. Harga tiket pun berkisar 800 ribu-1 juta rupiah. Selain itu, pengunjung dapat juga menggunakan jalur transportasi laut
dengan kapal Pelni dari Pelabuhan Kijang, Tanjung Pinang, Kepulauan
Riau, dengan harga tiket berkisar 200 ribu rupiah.
Refensi: